Sunday, September 1, 2013

Berkompetisi dengan Tenaga Kerja Asing

post ini merupakan lanjutan dari

[Rian's Journey] Pengalaman Pertama Naik Pesawat Terbang


Post kali ini mengenai fenomena 'istimewa' yang saya jumpai selama perjalanan naik pesawat udara. Apa itu? Sabar ya.. :peaces:
*GR., padahal gak ada yang menunggu :malus:

Sebelum mulai ceritanya, saya mau bertanya.. Pernahkah Anda dilayani oleh bule?
Nah, mungkin secara tidak sadar kita sebenarnya sering sekali dilayani oleh orang luar negeri. Setidaknya lewat aplikasi atau program yang dikembangkan oleh mereka. Yang ingin saya ceritakan di post kali ini adalah mengenai pilot pesawat terbang dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui [yang awalnya belum tahu, sekarang jadi tahu :peaces:] bahwa Garuda Indonesia adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bergerak di bidang transportasi., dalam hal ini maskapai penerbangan. Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan Indonesia yang berkonsep sebagai full service airline (maskapai dengan pelayanan penuh). Saat ini Garuda Indonesia mengoperasikan 82 armada untuk melayani 33 rute domestik dan 18 rute internasional termasuk Asia (Regional Asia Tenggara, Timur Tengah, China, Jepang dan Korea Selatan), Australia serta Eropa (Belanda).

Berbagai penghargaan pun telah diterima oleh Garuda Indonesia sebagai bukti dari keunggulannya. Pada tahun 2010, Skytrax menobatkan Garuda Indonesia sebagai “Four Star Airline” dan sebagai “The World's Most Best Improved Airline”. Selanjutnya pada Juli 2012, Garuda Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai “World's Best Regional Airline” dan “Maskapai Regional Terbaik di Dunia”. Sebuah lembaga konsultasi penerbangan bernama Centre for Asia Aviation (CAPA), yang berpusat di Sydney, juga memberikan penghargaan kepada Garuda Indonesia sebagai "Maskapai yang Paling Mengubah Haluan Tahun Ini", pada tahun 2010. Sedangkan Roy Morgan, lembaga peneliti independen di Australia, juga memberikan penghargaan kepada Garuda Indonesia sebagai “The Best International Airline” pada bulan Januari, Februari dan Juli 2012.
Logo dan tulisan Garuda Indonesia


Cukup dengan pengantar mengenai Garuda Indonesia. Sekarang kembali ke bahasan utamanya. Bagi Anda yang pernah menumpang armada pesawat Garuda Indonesia mungkin juga pernah mengalami yang saya alami. Tapi mungkin yang terbesit di benak Anda berbeda. Pilot di penerbangan yang saya tumpangi memiliki aksen bahasa Inggris yang kental sekali. Saat mendengarnya saya langsung teringat wajah inspektur Vijay :malus2:


Ya., suara pilot di penerbangan tersebut jelas sekali aksen Indianya. Saya yakin Garuda Indonesia memiliki banyak karyawan (terutama pilot) yang berkewarganegaraan selain Indonesia. Bagi saya hal ini adalah sesuatu yang membangkitkan impuls di otak. *halah* Ada fenomena apa di maskapai penerbangan milik BUMN ini? Apakah tidak cukup anak negeri yang  kompeten menjadi pilot di perusahaan milik negara ini? Atau tenaga kerja asing merupakan bagian wajib dari internasionalisasi maskapai Garuda Indonesia? Apakah anak negeri tidak siap 'go international' sebagai pilot? Saya yakin banyak orang Indonesia yang lebih dari cukup kompetensi untuk menjadi pilot di maskapai penerbangan milik negara ini. Lalu kenapa?

Tulisan ini tidak akan membahas secara detail mengenai alasan mengapa pilot dari negara lain menjadi pilihan. Tulisan ini akan melebar membahas fenomena persaingan global. Warga negara Indonesia adalah warga bumi. Sebenarnya sejak dahulu 'invasi' tenaga kerja asing bukanlah hal yang aneh. Tapi saat ini 'invasi' semakin gencar. Hampir setiap lini usaha diisi oleh-oleh tenaga profesional non-pribumi. Mungkin bagi Anda yang demikian bukan masalah. Mungkin bagi Anda yang demikian biasa saja. Tapi tahukah Anda, di banyak perusahaan maupun lembaga-lembaga, tenaga kerja asing dihargai lebih mahal dari tenaga kerja lokal. Dengan kompetensi dan tanggungjawab yang kurang lebih sama, tenaga kerja asing umumnya mendapatkan gaji yang lebih besar. Memiliki tenaga kerja asing di perusahaan merupakan suatu 'kebanggan' tersendiri bagi perusahaan. Seolah dengan demikian perusahaannya telah go international. Apakah memang harus rekruti tenaga kerja asing untuk go international?

Tahukah Anda bahwa tahun 2015 nanti negara-negara di ASEAN (termasuk Indonesia) akan dihadapkan dengan ASEAN Economic Community? Suatu kesepakatan regional yang di dalamnya menyangkut masalah ketenagakerjaan. Keran aliran perdagangan regional akan dibuka selebar-lebarnya. Perdagangan bebas (pajak / bea masuk dan keluar) merupakan pilihan strategi demi memperkuat peranan ASEAN bagi perekonomian dunia. Bersamaan dengan itu, tenaga kerja dari negara-negara ASEAN juga akan semakin bebas memilih lapangan pekerjaan. Dengan demikian 'invasi' besar-besaran dari tenaga kerja asing akan terjadi. Sudah siapkah tenaga kerja kita?

Logo ASEAN



No comments:

Post a Comment

komentar akan kami moderasi terlebih dahulu.
komentar yang tidak sesuai dengan nilai kesopanan dan hukum yang berlaku tidak akan kamu publikasikan.

hormat kami,
admin LinaRian.com

<b>:matabelo:</b> :matabelo: <b>:malus:</b> :malus: <b>:malus2:</b> :malus2:
<b>:peaces:</b> :peaces: <b>:berdukas:</b> :berdukas: <b>:thumbups:</b> :thumbups:
<b>:thumbdowns:</b> :thumbdowns: <b>:marahs:</b> :marahs: <b>:bingungs:</b> :bingungs:
<b>:plusones:</b> :plusones: <b>:eyeloves:</b> :eyeloves:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...