Sunday, July 7, 2013

Jadi Orang Penting Itu Baik, Jadi Orang Baik Itu Penting

Pak Sastro seorang kaya di desa Suka Damai. Rumah pak Sastro adalah satu-satunya rumah dengan arsitektur modern di desa tersebut. Kekayaan pak Sastro juga terlihat dari 15 petak sawah miliknya yang saat ini digarap oleh para buruh tani yang juga merupakan tetangganya. Tak hanya itu, mobil mewah yang merupakan pemandangan langka di desa kecil seperti desa Suka Damai, kini akan sering terlihat di halaman rumah pak Sastro. Mobil Daihatsu Xenia baru saja dibeli pak Sastro 3 hari yang lalu. Kehidupan pak Sastro terasa bertambah bahagia karena Bambang anak semata wayangnya yang kelak mewarisi kekayaannya, kini telah resmi menjadi murid kelas 1 SD Negeri 01 Suka Damai.

Berbeda dengan pak Sastro, pak Sued tetangga yang tinggal bersebelahan dengan rumah pak Sastro hanya mempunyai satu gubuk kecil dengan dinding dari anyaman bambu. Kehidupan buruh tani yang bekerja pada pak Sastro itu berbeda sekali dengan majikannya, hanya ada satu hal yang sama pada diri mereka yaitu kebahagiaan di hati mereka. Pak Sastro bahagia karena harta melimpah, sedangkan pak Sued bahagia karena mensyukuri nikmat Tuhan.

Pak Sued tinggal berdua bersama Suparno anaknya hasil pernikahan dengan Sri mendiang istrinya yang bertemu Tuhan mendahului mereka setahun yang lalu. Suatu hari Suparno merasa melihat ibunya ketika ia sendiri di rumah ditinggal bapaknya bekerja di sawah. Parno kemudian berlari menemui bapaknya. Parno menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang bapak.



“Pak saya tadi bertemu ibu. Ibu datang ke rumah, dan ibu berpesan supaya saya menjemput ibu.” Parno berhenti cerita untuk mengambil nafas, kemudian ia besuara lagi,”Pak..ayo pak jemput ibu.”

Mendengar rengekan anaknya itu pak Sued menjawab,”Parno...Parno kamu itu ngomong apa sih, ibumu itu sudah meninggal. Ibu sudah senang di surga bersama Tuhan. Sudah sana kamu pulang, terus langsung tidur dan jangan mikir yang aneh-aneh.” Mendengar jawaban bapaknya Parno merasa tidak puas, tapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati. Parno pulang dan sesampainya di rumah ia langsung tidur, tapi di dalam tidurnya Parno terus memikirkan ibu.

Ketika pak Sued pulang ke rumah ia mendapati anaknya terbaring di dipan dengan tubuh yang panas. Pak Sued kebingungan, ia khawatir sekali dengan keadaan anaknya itu. Dia takut Parno akan pergi meninggalkannya seperti yang dikatakannya tadi siang. Pak Sued ingin membawa anaknya ke rumah sakit tapi ia bingung bagaimana caranya membawa sang anak ke rumah sakit sementara malam semakin larut sedangkan jarak rumahnya dari rumah sakit terdekat tidak kurang dari dua puluh lima kilometer. Di tengah kebingungan pak Sued teringat akan pak Sastro, tetangga sebelah rumahnya. Meskipun takut tapi demi anak akhirnya pak Sued memberanikan diri menemui pak Sastro di rumahnya.

“Assalamualaikum” pak Sued berteriak dari luar pagar rumah pak Sastro. Karena tidak ada jawaban pak Sued mengulangi ucapan salamnya sampai tiga kali, baru setelah itu terlihat pak Sastro keluar dari pintu rumah dan berjalan menuju pagar. Ketika pak Sastro bertatap muka dengan pak Sued, ia langsung memaki pak Sued. “Hei orang kampung kamu itu buta ya, kamu gak liat apa di situ ada bel ? Kamu gak perlu teriak-teriak seperti tadi kalau manggil aku. Ngerti gak kamu ?”

“Maafkan saya pak, saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu.” pak Sued mencoba minta maaf.

“Sudah, gak usah basa basi sebenarnya kamu kesini mau ngapain ? Cepetan ngomong !” pak Sastro menjawab dengan nada keras.

“Begini pak, anak saya si Parno demam, panasnya tinggi sekali pak. Saya takut kalau ternyata sakitnya parah...” “Terus apa hubungannya dengan saya ?”, belum selesai pak Sued menerangkan, pak Sastro langsung memotong.

“Begini pak, kalau boleh saya mau minta tolong bapak untuk mengantar anak saya ke rumah sakit.” pak Sued memohon dengan wajah memelas.

“Apa ! Gak salah dengar nih, kamu minta tolong sama saya ? Kamu pikir siapa dirimu ?” suara pak Sastro terdengar keras di malam yang sunyi itu.

“Saya tahu siapa saya pak. Saya adalah pekerja bapak. Tapi justru karena saya pekerja yang tidak mampu saya minta bantuan bapak yang lebih mampu. Tolonglah pak, kalau bapak bersedia menolong saya akan sangat berterima kasih.” pak Sued berusaha meyakinkan pak Sastro untuk menolongnya.

“Saya tidak butuh terima kasihmu, sudah sana pergi. Aku tidak sudi anakmu naik mobil baruku, nanti bisa-bisa dia muntah. Hi...membayangkan saja saya sudah jijik, anakmu kan tidak pernah diajari sopan santun.” perkataan pak Sastro terdengar menyakitkan sekali di telinga pak Sued. Pak Sued akhirnya pergi kembali ke rumah, ia hanya bisa duduk menemani anaknya yang terbaring sakit sambil pasrah kepada Tuhan apapun yang akan terjadi pada anaknya. Tak terasa tengah malam telah lewat, pak Sued juga sudah tertidur dalam doanya yang tak henti sepanjang malam.

Betapa terkejutnya pak Sued ketika bangun tidur ia mendapati anaknya sudah tidak bernafas lagi. Pak Sued merasa sedih sekali karena orang-orang yang dicintainya di dunia telah pergi meninggalkannya, dan kini yang tinggal hanya dirinya dan kenangan. Tapi apa yang bisa dia perbuat saat ini tidaklah banyak, ia hanya bisa bersedih dan berdoa.

Sudah satu minggu setelah pemakaman Suparno dan sekarang pak Sued bisa lebih menerima kepergian Parno dan tidak lagi menyalahkan orang lain. Malam ini tiba-tiba hujan turun, suatu hal yang tidak biasa terjadi di musim kemarau. Petir menyambar dan menghanguskan apa saja yang menghalanginya menyentuh bumi. Tiba-tiba petir menyambar rumah pak Sastro yang kebetulan adalah bangunan paling tinggi di daerah tersebut. Ketika semua itu terjadi pak Sastro sedang menonton televisi bersama istrinya. Tak bisa dihindarkan lagi sambaran petir tadi menyebabkan televisi yang mereka tonton terbakar, karena petir tadi menyambar tepat pada antena televisi mereka. Api dengan cepat membesar dan mulai membakar apa saja yang bisa terbakar. Pak Sastro dan istrinya terkejut, kemudian mereka berdua langsung berlari keluar rumah. Sampai di luar sudah ada beberapa tetangga termasuk pak Sued yang penasaran dengan apa yang terjadi. Saat para tetangga sibuk bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, api sudah menjadi semakin besar. Tiba-tiba pak Sastro tersentak dan terlihat kebingungan.

Pak Sastro dengan panik menanyakan kepada istrinya di mana anak mereka. Rupanya saat bencana terjadi Bambang sedang tertidur di kamarnya. Dan bukannya langsung menolong anak mereka, tapi pasangan tersebut malah mulai saling menyalahkan.

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara pak Sued yang bertanya “Di mana kamar Bambang ?”.

Pak Sastro dengan kaget menjawab “Di lantai dua pak.” Tanpa banyak tanya lagi pak Sued langsung berlari menuju rumah pak Sastro. Dengan bermodal baju yang sudah basah karena keringat pak Sued menembus kobaran api berusaha mencapai kamar Bambang. Sementara itu pak Sastro, bu Sastro dan para tetangga menanti dengan cemas di luar rumah. Mereka hanya bisa berdoa dan berusaha mematikan api yang menjilat-jilat di sekitar mereka agar kebakaran tidak merembet ke rumah warga yang lain.

Lima belas menit kemudian dari balik kepulan asap yang menghalangi pintu rumah pak Sastro samar-samar terlihat pria tegap yang sedang menggendong anak kecil. Ternyata pak Sued berhasil menyelamatkan Bambang dari kobaran api yang bisa saja membunuhnya. Pak Sued memberikan Bambang yang terbaring lemas karena kekurangan oksigen kepada ibunya.

Sementara itu pak Sastro menghampiri pak Sued. “Terima kasih pak, andai saja tidak ada anda saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak saya. Sekali lagi terima kasih pak.”

“Sudahlah pak Sastro, sudah sewajarnya saya melakukan semua itu. Sebagai tetangga kita memang harus saling tolong menolong.” pak Sued berusaha merendah. Mendengar ucapan pak Sued, pak Sastro merasa malu. Ia malu pada dirinya yang dulu tidak mau menolong pak Sued ketika anaknya sakit. “Andai saja tadi pak Sued terlambat sebentar saja, pasti nyawa Bambang tidak akan dapat diselamatkan. Saya sangat berterima kasih pada pak Sued, dan saya juga mau minta maaf atas kematian Parno. Andai saja saat itu saya mau menolong pak Sued seperti pak Sued menolong saya saat ini, pasti Parno tidak akan meninggal.” Mendengar semua itu pak Sued jadi sedih, ia teringat Parno anaknya “Sudahlah pak, tidak usah diingat-ingat lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Sebaiknya pak Sastro sekarang cepat membawa Bambang ke rumah sakit. Saya tidak mau kalau sampai Bambang bernasib sama seperti Parno. Sudah cukup kesedihan yang saya alami.”

Beruntung sekali saat musibah terjadi mobil pak Sastro yang ada di garasi tidak ikut terbakar karena antara rumah dengan garasi terdapat jarak sekitar lima meter, sehingga Bambang dapat langsung dibawa ke rumah sakit dan nyawanya dapat diselamatkan.

2 comments:

  1. semoga cerita ini hanya fiksi Cak... kalau enggak bisa mangkel saya ama pak Sastro hehehe..

    Jadi Orang Penting Itu Baik, Jadi Orang Baik Itu Penting. Mungkin lebih essip markosip jika jadi orang penting dan baik ya :plusones:

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Uncle..
      seperti Uncle ini., orang penting dan baik :matabelo:

      terima kasih sudah berkunjung Uncle. cerita ini fiksi. saya tulis sebagai respon dari tugas yang diberikan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
      :malus2:

      Delete

komentar akan kami moderasi terlebih dahulu.
komentar yang tidak sesuai dengan nilai kesopanan dan hukum yang berlaku tidak akan kamu publikasikan.

hormat kami,
admin LinaRian.com

<b>:matabelo:</b> :matabelo: <b>:malus:</b> :malus: <b>:malus2:</b> :malus2:
<b>:peaces:</b> :peaces: <b>:berdukas:</b> :berdukas: <b>:thumbups:</b> :thumbups:
<b>:thumbdowns:</b> :thumbdowns: <b>:marahs:</b> :marahs: <b>:bingungs:</b> :bingungs:
<b>:plusones:</b> :plusones: <b>:eyeloves:</b> :eyeloves:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...